Minggu, 29 Januari 2012

Arti Kata "PARAHYANG"


     
Sampurasun...!
Kata "Parahyangan" yang kemudian lebih sering disebut dengan "Priangan" pada prinsipnya menunjukan sebuah tempat, sebab jika kita menelusurinya melalui bahasa "Sang Saka Kerta" yang ditulis dalam aksara Palawa kata Parahyangan itu akan mengandung arti sebagai berikut:

"Pa" artinya adalah tempat, sedangkan "Ra" adalah sinar dan kata "Hyang" boleh jadi maksudnya "pemimpin yang agung". Maka bila diartikan secara bebas arti kata Pa-Ra-Hyang itu adalah "Tempat-Sinar-Pemimpin yang Agung" atau "Tempat Pemimpin Agung yang Bersinar".

Kata "para" dalam hal ini tidak berarti jamak, seperti pada kata "para hadirin, para pemirsa, para sahabat, dst." Kata "para" secara umum digunakan juga untuk menunjukan tempat yang tinggi atau langit (para=langit, lihat dalam kata para-para atau langit-langit yang letaknya di bawah wuwungan yang artinya suwung atau kosong).

Yang menyebabkan kata "Parahyang" kehilangan makna adalah ketika ia dituliskan dalam susunan dan bentuk kata "Para-hiang-an" lalu disingkat jadi "priangan".

Pa-Ra-Hyang yang dimaksudkan pada dasarnya bukan ditujukan bagi kota Bandung secara menyeluruh, namun khusus bagi wilayah tempat lahirnya Salaka Domas dan Salaka Nagara, tepatnya disekitar Gn. Agung (Gunung Tangkuban Pa-Ra-Hu), maka dari itu kita mengenal daerah "Lamba Hyang atau Lembah Hyang atau LEMBANG". Tempat tersebut merupakan cikal bakal lahirnya konsep berkebangsaan dan ketata-negaraan diseluruh dunia yang di awali oleh Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manik Maya dengan misi "Mula Sarwa Stiwa Dani Kaya" (letaknya di sekitar Gunung Batu daerah Buka Nagara/Mula Nagara, Lembang). Kemudian dilanjutkan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) yang membangun padepokan Jambudwipa...kelak konsep ini dilanjutkan oleh Da-Hyang Su-Umbi (Galuh Kandiawati) dan Mulawarman atau Si Tumang (Resi Taruma Hyang), mereka mendirikan Taruma Nagara Desa.

Pernikahan antara Da-Hyang Su-Umbi dengan Taruma Hyang melahirkan Panca Putra Dewa (Pandawa Putra) yang membawa misi Ajaran Dwipa (Dwipayana) maka terbentuklah: Jawa-dwipa, Swarna-dwipa, Simhala-dwipa, Waruna-dwipa, dst. hingga ke India.

Adapun Pandawa Putra tersebut dikenal juga dengan sebutan "Pancakusika" yang terdiri dari :
1. Pangeran Nandiswara (Sang Guru/Kuru Hyang = Sangkuryang = Ganesha = Sri Bima Sakti)
2. Pangeran Gargha
3. Pangeran Purusha
4. Putri Maestri
5. Pangeran Puntajala Hyang (Dapunta Hyang/Gn. Puntang)
*Gunung = Guru nu Agung, itu sebabnya bagi bangsa Sunda sosok gunung menjadi begitu penting karena memiliki makna khusus.

"Hu" dalam kata "Parahu = Pa-Ra-Hu" boleh jadi bermakna TUHAN seperti yang digunakan oleh bangsa Arab (Yaa Hu), atau seperti kata "Ra" yang digunakan oleh bangsa Mesir (masyarakat Mesir mengenal dan menggambarkan sosok Dewa Matahari sebagai Ra dan Dewa Anubys yang berkepala Anjing).

Musnahnya pemahaman Bangsa Sunda terhadap bahasa Salaka Domas dan Salaka Nagara diduga bersamaan dengan 'diserahkannya' istilah "Sang Saka Kerta" kepada bangsa India (versi sejarah Barat). Orang Eropa menyebutnya sebagai "Sanscrit", sedangkan bangsa Melayu menyebutnya dengan "Sanskerta".

Bukankah patung Sidharta Gautama di candi Borobudhur-pun tidak berarti Sang Budha itu orang Indonesia? Lihat pula bagaimana ilmuwan Barat mengganti nama "Kong Hu Tzu" menjadi "Confucius". Maka, demikian pula dengan HU dan RA ataupun SANG SAKA KERTA.

Apa dasarnya bangsa Sunda harus tunduk kepada catatan sejarah yang dituliskan oleh bangsa Barat? sejujurnya mereka tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Bangsa Sunda Besar dan Sunda Kecil. Kalaupun ada, pada umumnya sudah dicampuri unsur politik 3G - "Gold, Gospel and Glory".

Cag...!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar